Sebagai anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, saya masih belum merasakan semua tempat wisata wajib yang biasa di rekomendasikan oleh warga lokal untuk turis. Pada 14 Maret 2023 sekolah saya mengadakan kegiatan pembelajaran diluar untuk mengganti kelas yang tergantikan dengan ujian kelas diatas angkatan kami, berikut cerita saya.
Akses yang kita
gunakan ialah transportasi umum, layaknya
turis. Pemberhentian pertama kami ada di PERPUSNAS (Perpustakaan Nasional
Republik Indonesia) yang terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan No.11, Jakarta.
INFORMASI PENTING
Alamat : Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan Nasional. Jl Medan Merdeka Sel. No.11, Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pussat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110, Indonesia.
Jam Operasional :
Senin-Jumat : 08.00-16.00
Sabtu dan Minggu : 09.00 - 16.30
Batas waktu peminjaman buku : 7 hari
Cara menjadi anggota:
1. Mengisi formulir pendaftaran yang ada di website berikut sebelum berangkat,
link pembuatan ID Card : https://keanggotaan.perpusnas.go.id/daftar.aspx
2. Jika belum mengisi, komputer telah disediakan di ruang keanggotaan Lt.2 untuk pendaftaran, kalau sebelumnya sudah, tinggal daftar ulang
3. Setelah daftar kamu akan mendapatkan nomor antre-an untuk membuat kartu anggota
4. Saat nomor kamu sudah dipanggil, kamu beri tanda pengenal asli dan berlaku (KTP/ KK)
5. Kartu kamu sudah siap digunakan
6. Biaya masuk gratis, tidak dipungut biaya!
Setelah membuat kartu, kami naik escalator kurang lebih tiga kali dan lanjut menggunakan lift menuju lantai 22. Kami fokus pada lantai 22, dimana terdapat banyak literatur lengkap dari topik kuliner, parenting, agama, teknik, dan lainnya. Disana saya menemukan buku jurnal pribadi tentang memori dan keluhan yang sangat menyentuh dan indah, kalo penasaran langsung aja yuk klik "KEMBALI BUKAN DATANG" dibawah ini...
Selain dari koleksi buku masih banyak hal yang saya temui saat meng-explore. Pembukaan galeri seni, kantin, ruang teater, dan masih banyak lagi. Berikut daftar lengkap dari setiap lantainya...
DAFTAR LANTAI PERPUSNAS
Lantai 1: Lobi Utama dan Cafe
Lantai 2: Ruang
Layanan Keanggotaan Perpustakaan, Penulusuran Informasi dan Ruang Auditorium
Lantai 3: Zona
Promosi Budaya Baca
Lantai 4: Ruang
Pameran Koleksi Perpustakaan dan Kantin
Lantai 5: Ruang
Pustakawan
Lantai 6: Data
Center dan Musholla
Lantai 7:
Layanan Anak, Lansia, dan Disabilitas
Lantai 8:
Layanan Audiovisual
Lantai 9:
Layanan Naskah Nusantara
Lantai 10:
Layanan Deposit
Lantai 11:
Monograf Tertutup
Lantai 12-12A:
Ruang Baca Pemustaka
Lantai 13:
Layanan Repositori Terbitan Karya Indonesia
Lantai 14:
Layanan Koleksi Buku Langka
Lantai 15:
Layanan Referensi, Koleksi Online dan Ilmu Perpustakaan
Lantai 16:
Layanan Koleksi Foto, Peta, dan Lukisan
Lantai 17-18:
Kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
Lantai 19:
Layanan Multimedia
Lantai 20: Layanan
Koleksi Berkala Mutakhir dan Bidang Ilmu Perpustakaan
Lantai 21-22
Layanan Monograf Terbuka (klas 000-499) (klas 500-999)
Lantai 23:
Layanan Koleksi Bangsa-bangsa di Dunia dan Majalah Terjilid
Lantai 24: Layanan Koleksi Budaya Nusantara, Executive Lounge dan Ruang Penerimaan Tamu Mancanegara
Terasa perbedaan yang signifikan dari kedua lokasi ini, yaitu saat ketenangan berganti menjadi bisingnya canda gurau, dimana PERPUSNAS memiliki mayoritas pelajar kuliah hingga orang dewasa kantoran, dibanding Museum BI berisi tawa ria kanak-kanak dibawah SMA.
Museum Bank Indonesia ini adalah peninggalan De Javasche Bank dan sudah berdiri sejak tahun 1828. Kami masuk dengan kartu pelajar yang lalu diganti dengan tiket masuk, sebelum masuk kita harus meninggalkan tas besar di luar beserta minuman. Kala itu, barang yang saya bawa kedalam hanya kamera dan hp saya.
DENAH LORONG MUSEUM BI
Sungguh saya takjub melihat isi dari museum ini, awal masuk kita disuguhkan arsitektur yang indah dengan jendela bermotif. Kemudian kita masuk kedalam ruangan berlorong, terpesona dari banyaknya media pembelajaran yang inovatif dan menarik bagi pelajar, seperti layar buku proyektor yang dapat anda geser tanpa disentuh, sampai orang-orangan palsu yang menangkap emosi dan alur cerita dari perkembangan ekonomi Indonesia dari masa penjajahan berpangkal rempah-rempah hingga revolusi industri.
Banyak kejadian personal yang menarik bagi kami sebagai remaja yang mudah terpikat akan hal yang cantik. Tak terlewat untuk memotret setiap bertemu hal-hal kecil dan senyuman kecil yang terhalang masker sebagai tanda kegemaran. Mulai dari busana-busana bersejarah, naskah cerita, tipografi, lampu berkilau, arsitektur interior, potret bersejarah bahkan barang antik sederhana seperti gelas, jam, dan furnitur.
Bagi orang yang punya minat di sejarah, berikut cuplikan koleksi dari museum ini. Langsung cek website-nya yuk, dibawah ini juga ada link virtual tour lohh...
Virtual Tour Museum Bank Indonesia



















Komentar
Posting Komentar